Tumpang Tindih
![]() |
| Tampak Depan: "Tumpang Tindih", Instalasi Karya Puji Rahayu, S.Sn, Foto: Mbah Dinan |
TUMPANG TINDIH: Sebuah Paradox Pembangunan Kota dan Keberadaan Sungai yang Saling Menindih
Data Karya
Judul: TUMPANG TINDIH
Ukuran: 244 x 244 x 80cm
Media: Kardus Bekas, Triplek Bekas dan Cat Akrilik
Tahun: 2026
Deskripsi Karya
“Tumpang Tindih” merupakan karya instalasi dari tumpukan kardus bekas yang merepresentasikan hubungan antara pertumbuhan Kota Pontianak dan semakin terdesaknya ruang Sungai Kapuas. Kardus disusun secara berhimpitan, bertabrakan, saling menekan, dan menutup satu sama lain sebagai metafora tumpang tindihnya kepentingan pembangunan “jalan, bangunan, permukiman, perdagangan, dan infrastruktur” yang terus memadati ruang kota.
Di antara kepadatan tersebut, Sungai Kapuas hadir melalui celah, garis, bidang, warna, dan bentuk tak beraturan yang tumpang tindih dan saling menghimpit. Komposisi karya yang terbatas menggambarkan sungai sebagai ruang yang terus diminta mengalah dan menyesuaikan diri terhadap ekspansi kota. Kardus dipilih karena dekat dengan aktivitas distribusi, perdagangan, konsumsi, dan perpindahan barang. Sebagai material yang setelah digunakan kerap dianggap tidak bernilai, kardus menjadi arsip material dari siklus pembangunan dan konsumsi: dipakai, ditumpuk, dipindahkan, kemudian dibuang.
Konsep Karya
Karya instalasi Puji Rahayu, S.Sn., berjudul Tumpang Tindih merupakan presentasi pergolakan pembangunan “Kota dan Sungai yang Saling Menindih”. Karya instalasi ini membaca Pontianak sebagai ruang yang sedang diperebutkan: antara sungai, kota, kebijakan, kepentingan politik, dan hasrat pembangunan. Dalam karya instalasi ini, Sungai Kapuas tidak ditempatkan sekadar sebagai latar geografis kota, melainkan sebagai tubuh ekologis yang terus-menerus ditindih oleh berbagai kepentingan.
Pontianak tumbuh bersama sungai, tetapi dalam pembangunan, sungai sering kali diperlakukan seperti ruang kosong yang dapat disisihkan ketika kepentingan kota membutuhkan tempat. Jalan, bangunan, kawasan komersial, permukiman, infrastruktur, dan berbagai proyek pembangunan kota seolah-olah mempunyai hak untuk terus mengambil ruang sungai, sementara sungai diminta mengalah dan menyesuaikan diri.
Di sinilah ironi karya ini bekerja: Kota dibangun untuk menjadi lebih maju, tetapi sungainya dipaksa membayar harga kemajuan itu.
Kardus-kardus bekas dalam karya disusun bertumpuk menjadi metafora dari tata ruang kota Pontianak yang semrawut karena tumpang tindihnya kepentingan pembangunan. Kardus merupakan material yang dekat dengan aktivitas distribusi, perdagangan, konsumsi, dan perpindahan barang. Ia juga merupakan benda yang setelah digunakan, dianggap tidak bernilai. Dalam konteks karya, kardus menjadi semacam arsip material dari logika pembangunan dan konsumsi kota, “dipakai, ditumpuk, dipindahkan, kemudian dibuang”.
![]() |
| Tampak Belakang: "Tumpang Tindih", Instalasi Karya Puji Rahayu, S.Sn, Foto: Mbah Dinan |
Komposisi ruang karya dari kardus-kardus tidak disusun secara rapi. Mereka saling menekan, bertabrakan, menutup, dan mengambil ruang satu sama lain. Bentuk ini menghadirkan gambaran kota yang terus tumbuh tanpa benar-benar menyelesaikan persoalan ruangnya. Sementara, sungai menjadi ruang yang selalu mengalah, dikalahkan, dan menjadi korban kekalahan.
Sungai sebagai ruang yang kalah
Karya instalasi Tumpang Tindih menghadirkan Sungai Kapuas secara konseptual melalui celah celah, bidang, garis, warna, dan bentuk yang terhimpit di antara tumpukan kardus. Gambaran ini sebagai alegori, bahwa sungai sengaja ditindih, tidak diberikan ruang. Jika ada itupun akan sedikit sekali, dan cenderung tidak berpihak bagi keberlanjutan. Sementara kota terus bersolek, sungai Kapuas semakin terpinggirkan. Sungai hanya dijadikan penyaksi kota Pontianak yang sedang berkembang dalam jargon pembangunan. Sungai kapuas justru tampak seperti sesuatu yang tersisa setelah kota mengambil hampir seluruh ruang yang tersedia.
Di sinilah kritik Puji Rahayu menjadi tajam melalui karya yang menyuarakan bahwa kota membutuhkan sungai untuk hidup, tetapi pembangunan memperlakukannya seolah-olah sungai mengganggu kehidupan kota itu sendiri. Paradoks tersebut menjadi pusat gagasan karya. Sungai menyediakan identitas, ruang ekologis, jalur kehidupan, sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah Pontianak. Namun ketika pembangunan berbicara dalam bahasa investasi, perluasan kawasan, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi, keberadaan sungai dapat tereduksi menjadi sekadar hambatan teknis yang harus dinegosiasikan.
Sungai akhirnya tidak lagi dipandang sebagai subjek yang mempunyai hak untuk bertahan, melainkan sebagai objek yang dapat disesuaikan dengan kepentingan pembangunan.
Pembangunan sebagai lapisan yang menindih
Penumpukan kardus juga menjadi metafora bagi lapisan kepentingan dalam politik pembangunan daerah. Satu keputusan menindih keputusan lain; satu kepentingan menutupi kepentingan lain. Ruang kota menjadi arena negosiasi berbagai kepentingan yang tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan ekologis sungai Kapuas. Pembangunan seakan-akan mempunyai rumus yang sederhana, “Semakin banyak beton, semakin maju kota. Semakin sedikit ruang sungai, semakin berhasil pembangunan.”
Pada akhirnya muncul sebua pertanyataan yang selama ini terlalu absurd untuk dijawab, Siapa yang sebenarnya mendapatkan ruang dalam pembangunan kota, dan siapa yang harus kehilangan ruang?
Ketika kepentingan ekonomi, politik, estetika kota, dan pencitraan pembangunan saling bertemu, sungai berada dalam posisi yang tidak memiliki suara politik yang setara. Sungai tidak hadir dalam ruang rapat. Sungai tidak menandatangani dokumen. Sungai tidak menghadiri negosiasi anggaran. Namun sungai menerima konsekuensi dari setiap keputusan tersebut. Artinya, Sungai Kapuas menjadi “pihak yang selalu hadir tetapi tidak pernah diajak berunding.”
Indah, ramai, tetapi sesak
Lukisan abstrak di atas permukaan kardus menggunakan warna-warna yang penuh, teknik pointilis, serta penumpukan warna seara berulang, membuat bidang-bidang yang akhdirnya menjadi dimensi saling menumpuk. Pilihan visual yang dekoratif dan meriah sengaja dibuat berhadapan dengan persoalan yang keras, sebuah gambaran tentang perjalanan sungai diantara hiruk pikuk Kota Pontianak.
Begitu juga terhadap permasalahan pembangunan yang sengaja disembunyikan dibalik gemerlap lampu-lapu kota. Warna-warna tersebut dibaca sebagai representasi dari wajah pembangunan yang selalu ditampilkan dalam bahasa yang indah: kemajuan, pertumbuhan, revitalisasi, modernisasi, investasi, penataan, dan masa depan.
Tetapi ketika warna-warna itu ditumpuk terus-menerus, bidang lukisan menjadi semakin padat. Titik-titik pointilis tidak lagi berdiri sendiri; mereka saling menekan dan bertabrakan, saling bertumpang dan saling menindih. Warna yang seharusnya memperindah justru menciptakan sesak visual, sebagaimana sesaknya pembangunan di kota yang katanya kita cintai ini.
Teknik menjadi bagian dari kritik.
Pointilis menjadi titik-titik kepentingan. Tumpukan warna menjadi lapisan keputusan. Kardus menjadi ruang kota. Celah antarkardus menjadi ruang sungai. Tindihan menjadi konflik kepentingan. Kekacauan komposisi menjadi metafora tata ruang. Semakin banyak kepentingan masuk, semakin sulit menemukan batas antara kota dan sungai.
Selanjutnya Puji Rahayu membawa gaya Dekoratif sebagai ironi. Penerapan gaya melukis dekoratif yang dikembangkan melalui karakter visual seniman perempuan Pontianak justru memperkuat kontradiksi karya. Permukaan karya tampak indah, penuh warna, ornamental, dan menarik perhatian, tetapi di balik keindahan tersebut terdapat persoalan ruang yang kusut.
Karya ini seolah berkata, Silakan nikmati warna-warni pembangunan. Namun, Jangan terlalu dekat—di baliknya ada sungai yang sedang kehilangan ruang. Karya ini bisa mengungkap bahwa keindahan Kota Pontianak hanya menjadi make-up bagi kekacauan tata ruang.
Kota dapat dihias dengan warna, slogan, ornamen, bangunan baru, dan berbagai simbol kemajuan. Tetapi dekorasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan ekologis. Dalam karya instalasi ini, estetika bukan untuk menenangkan penonton, melainkan untuk memancing penonton masuk terlebih dahulu ke dalam keindahan sebelum dipaksa melihat kekacauan di baliknya.
Ketika kota dan sungai sama-sama menjadi korban
“Kota dan Sungai yang Saling Menindih” tidak hanya berbicara tentang sungai yang dirugikan. Kota itu sendiri pada akhirnya menjadi korban dari cara pembangunan yang mengabaikan sungai. Ketika ruang sungai semakin tertekan, persoalan ekologis tidak berhenti di sungai. Dampaknya dapat kembali kepada kota melalui persoalan tata air, kualitas lingkungan, sedimentasi, pencemaran, berkurangnya ruang ekologis, dan meningkatnya kerentanan kawasan perkotaan terhadap persoalan hidrologis.
Ironinya, Kota menindih sungai untuk memperluas dirinya, lalu suatu hari kota harus berhadapan dengan sungai yang ruang hidupnya telah dipersempit sendiri. Karena itu, karya ini tidak menempatkan kota versus sungai sebagai dua pihak yang benar-benar terpisah. Justru keduanya adalah satu tubuh yang sedang saling menindih.
Ketika sungai rusak, kota ikut terluka. Ketika kota kehilangan keteraturan, sungai ikut menanggung bebannya. Ketika pembangunan mengabaikan sungai, pembangunan pada akhirnya sedang mengabaikan masa depan kotanya sendiri.
Tertarik dengan karya Tumpang Tindih ini?
Klik tombol di bawah agar terhubung ke whatsapp Admin.
Hubungi Admin



