Secangkir Kopi dan Jalan Menjadi Perupa

 

Secangkir Kopi dan Jalan Menjadi Perupa

Secangkir Kopi dan Jalan Menjadi Perupa

Oleh Edo Pop

Menjelang sore beberapa waktu lalu, teras rumah saya masih menyimpan hangat matahari. Beberapa mahasiswa baru yang sedang menempuh pendidikan seni rupa di  Yogyakarta duduk santai di kursi dan lantai teras. Di tengah kami ada gelas-gelas kopi, piring kecil berisi camilan, dan bungkus rokok yang sesekali berpindah tangan. Tidak ada meja seminar, tidak ada presentasi, tidak ada catatan yang harus dibuat. Kami hanya ngobrol.

Obrolannya bergerak ke mana-mana. Tentang kuliah, karya, dosen, pameran, kehidupan seni di Yogyakarta, sampai pengalaman bagaimana seseorang mulai menempatkan dirinya di dunia seni rupa. Sesekali mereka bertanya, saya menjawab. Saya pun balik bertanya tentang apa yang mereka rasakan setelah menjadi mahasiswa seni.

Sampai kemudian muncul pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi cukup panjang untuk dijawab: “Bagaimana memulai menjadi perupa sejak masih mahasiswa?”

Saya tidak langsung menjawab. Saya menyeruput kopi. Entah mengapa pertanyaan itu justru membawa pikiran saya jauh ke belakang,  Ketika  tahun 1990-an menjadi mahasiswa ISI Yogyakarta.

Dulu saya juga pernah berada di posisi mereka

Saya datang sebagai anak muda yang belum banyak mengetahui kehidupan seni rupa. Saya tahu ingin menjadi pelukis, tetapi belum benar-benar memahami apa artinya memilih jalan itu. Dunia seni terasa luas, sementara pengetahuan saya masih terbatas.

Pada masa itu saya beruntung bertemu dengan beberapa kakak tingkat yang sudah lebih dahulu menjalani kehidupan sebagai perupa. Mereka bukan guru dalam pengertian formal. Mereka tidak duduk di depan saya lalu memberikan pelajaran tentang bagaimana menjadi seniman.

Saya belajar dari pertemuan. Dari obrolan. Dari melihat mereka bekerja dan melihat hasil karyanya. Dari mendengar cerita tentang pameran yang mereka ikuti. Dari mengikuti pergaulan mereka. Dari bertanya tentang hal-hal yang belum saya pahami.

Kadang sebuah percakapan yang bagi mereka mungkin biasa saja, bagi saya justru membuka pandangan. Saya mulai memahami bahwa kuliah seni bukanlah tujuan akhir. Kampus hanya salah satu pintu menuju kehidupan seni yang lebih luas.

Yogyakarta waktu itu menjadi ruang belajar yang penting bagi saya. Saya belajar dari kampus, tetapi juga dari jalan, pameran, studio, komunitas, warung kopi, pertemuan dengan seniman, dan berbagai peristiwa seni yang berlangsung di kota ini.

Keadaan sekarang tentu jauh berbeda.

Mahasiswa hari ini mempunyai kesempatan yang lebih terbuka untuk memperoleh pengetahuan. Teknologi dan media sosial membuat informasi datang hampir tanpa jeda. Karya seniman dari berbagai kota dan negara dapat dilihat melalui layar. Teknik dapat dipelajari dari berbagai sumber. Diskusi, wawancara, pameran, buku digital, dan perkembangan seni rupa dapat ditemukan dengan mudah.

Pada tahun 1990-an, keadaan kami justru sebaliknya. Informasi seni rupa tidak mudah didapatkan. Untuk mengetahui perkembangan seni rupa nasional maupun internasional, kami bergantung pada majalah, koran, katalog pameran, buku, atau cerita langsung dari seniman yang lebih dahulu mempunyai pengalaman.

Buku pun tidak selalu tersedia. Banyak buku hanya bisa ditemukan di perpustakaan. Kalau sedang dipinjam orang lain, kami harus menunggu. Untuk melihat perkembangan seni rupa di luar negeri, kami tidak bisa membuka telepon genggam dan melihat ribuan karya dalam hitungan menit.

Pameran besar berskala nasional juga belum datang sesering sekarang. Ruang seni masih terbatas. Karena itu, ketika ada pameran besar, kami menunggunya. Kami datang. Kami melihat karya secara langsung. Kami membaca katalog. Kami berbicara dengan orang-orang yang datang.

Sebuah pameran bisa menjadi peristiwa yang lama dibicarakan setelahnya. Mungkin karena keterbatasan itulah, pertemuan langsung menjadi sangat penting bagi generasi saya. Satu buku bisa dibaca berulang-ulang. Satu katalog bisa dilihat dan dibaca berkali-kali, lalu disimpan bertahun-tahun. Satu percakapan dengan seniman bisa terus diingat.

Satu pameran bisa mengubah cara melihat.

Sekarang situasinya terbalik. Informasi bukan lagi sesuatu yang harus dicari dengan susah payah. Informasi justru datang begitu banyak sampai kita harus belajar memilih dan memilah.

Dulu kami kekurangan informasi dan harus banyak mencari. Sekarang informasi melimpah dan kita harus banyak memilah.

Tetapi di tengah perubahan itu ada sesuatu yang tetap sama: pengetahuan pada akhirnya harus kembali kepada kerja kreatif. Kembali kepada studio, pada kanvas, pada tubuh yang bekerja, dan pada kesungguhan hati yang menjalani proses.

Karena itu, ketika mahasiswa tadi bertanya bagaimana memulai menjadi perupa, saya tidak ingin memberikan satu rumus. Saya hanya menceritakan bagaimana dulu saya belajar menemukan jalan.

Menurut saya, selama masih kuliah, jangan terlalu cepat merasa cukup hanya karena sudah masuk perguruan tinggi seni. Justru masa kuliah adalah waktu untuk sergep. Masa sungguh-sungguh, aktif, dan tidak malas mencari pengalaman .tidak bisa dihindari menguasai dasar-dasar yang memang harus dipelajari.

Teori dan praktik perlu berjalan bersama.

Membuat karya tanpa memperluas cara berpikir bisa membuat kita berputar di tempat yang sama. Sebaliknya, terlalu banyak bicara tentang gagasan tanpa sungguh-sungguh bekerja juga membuat gagasan kehilangan tubuhnya. Karena itu, ruang belajar tidak berhenti di ruang studio atau ruang kuliah.

Diskusi penting. Belajar berdebat juga penting. Bukan berdebat untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi untuk menguji cara berpikir sendiri. Kalau ada forum filsafat, estetika, kebudayaan, atau pembicaraan tentang persoalan sosial, datanglah. Dengarkan. Kalau belum memahami semuanya, tidak apa-apa. Setidaknya kita sedang melatih diri berhadapan dengan pemikiran yang berbeda.

Dari sana kita mulai memahami bahwa karya tidak lahir dari tangan saja. Ada pengalaman, bacaan, pergaulan, kegelisahan, cara melihat lingkungan, dan cara memahami kehidupan yang ikut bekerja di dalamnya.

Saya dulu tidak memiliki akses informasi seperti mahasiswa sekarang. Karena itu saya banyak belajar melalui orang dan peristiwa yang saya temui. Sekarang kesempatan itu jauh lebih luas. Tinggal bagaimana setiap orang mau menggunakannya.

Pergaulan juga bagian dari proses menjadi perupa.

Bukan dalam pengertian mencari orang penting supaya kelak mendapatkan tempat. Bagi saya, pergaulan lebih sederhana: mengenal orang, berbicara, mendengarkan pengalaman, melihat bagaimana kehidupan seni berjalan, dan memahami bahwa dunia seni rupa terdiri dari banyak orang dengan pengalaman yang berbeda.

Kalau ada alumni yang sudah lebih dahulu masuk dalam kehidupan seni, kenapa tidak bergaul dengan mereka? Kalau ada seniman yang bisa ditemui, kenapa tidak berbicara? Kalau ada komunitas seni rupa yang membuka ruang, kenapa tidak ikut terlibat? Mahasiswa tidak harus menunggu semuanya datang ke kampus.

Sesekali keluar dari lingkungan kampus. Datang ke pameran. Ikut forum. Melihat pembukaan. Masuk ke ruang komunitas. Bertemu orang dari kota lain. Mengikuti kegiatan seni yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan tugas kuliah.

Sesekali keluarlah dari lingkungan kampus. Datang ke pameran, ikut forum diskusi, melihat pembukaan, masuk ke ruang-ruang komunitas, dan bertemu dengan orang-orang seni dari kota lain. Ikuti kegiatan seni yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan tugas kuliah. Dari sana wawasan tumbuh dengan cara yang berbeda.

Jangan membatasi pergaulan hanya pada sesama mahasiswa seni rupa. Bergaullah dengan kawan dari lintas disiplin: sastra, teater, musik, film, tari, dan berbagai praktik kebudayaan lainnya. Sebab medan seni tidak pernah berdiri sendiri dalam batas-batas jurusan. Gagasan sering kali justru muncul ketika kita bertemu dengan cara berpikir yang berbeda.

Kampus memberi dasar pengetahuan dan latihan, tetapi dunia seni yang sesungguhnya jauh lebih luas. Di luar kampus kita belajar membaca situasi, melihat bagaimana karya dibicarakan, bagaimana seniman membangun jaringan, bagaimana komunitas bekerja, bagaimana publik merespons karya, sekaligus bagaimana kita menempatkan diri di tengah medan sosial seni.

Karena itu, jangan hanya menjadi mahasiswa yang rajin mengerjakan tugas. Jadilah orang yang ingin tahu, mau bertemu, mau mendengar, mau berdiskusi, dan berani masuk ke ruang-ruang yang belum kita kenal. Pengalaman-pengalaman kecil semacam itu sering kali menjadi bekal yang baru terasa nilainya bertahun-tahun kemudian.

Dari sanalah kita mulai mengenali dunia yang sebenarnya sedang kita masuki.

Saya kira hal seperti itu juga yang dulu saya alami. Saya tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan di kampus. Saya belajar dari lingkungan seni yang sedang tumbuh di Yogyakarta. Saya bertemu banyak orang, melihat berbagai cara kerja, masuk ke berbagai pergaulan, dan perlahan menemukan posisi saya sendiri.

Tetapi ada satu hal yang menurut saya lebih penting daripada sekadar aktif ke sana kemari: integritas dan kesinambungan.

Seseorang bisa hadir di banyak pameran, mengikuti banyak diskusi, mengenal banyak orang, dan terlihat aktif dalam kehidupan seni. Tetapi semua itu pada akhirnya kembali kepada satu pertanyaan:

Apa yang sungguh-sungguh dikerjakan? Bagi saya, integritas bukan berarti merasa paling benar atau paling murni. Integritas lebih sederhana: ada kesesuaian antara apa yang kita katakan, apa yang kita yakini, dan apa yang kita kerjakan.

Kalau mengatakan ingin menjadi perupa, ya bekerja sebagai perupa. Kalau mempunyai kegelisahan tertentu, coba bawa kegelisahan itu ke dalam pekerjaan. Kalau karya belum berhasil, periksa kembali. Kalau gagal, jangan buru-buru mencari alasan. Dan yang tidak kalah penting adalah kesinambungan.

Tidak harus setiap hari membuat karya. Saya sendiri tidak selalu melukis setiap hari. Tetapi ketika masuk studio, saya berusaha menyediakan waktu yang cukup panjang untuk berada di hadapan kanvas, minimal menyediakan waktu sekitar empat jam.

Empat jam itu bukan berarti empat jam terus-menerus menggerakkan kuas. Ada waktu untuk melihat. Ada waktu untuk berpikir. Ada waktu untuk mundur beberapa langkah dan melihat capaian estetik. Ada waktu untuk memberi jeda pada keraguan. Ada waktu untuk mengubah sesuatu.

Bahkan ada saat ketika saya harus berani menghapus bagian yang sudah dikerjakan karena ternyata tidak sesuai dengan rasa estetik yang sedang saya cari. 

Kadang saya berhenti, keluar studio mencari angin karena mentok dengan apa yang sedang dipikirkan. Setelah pikiran terasa lebih segar, saya kembali bekerja. Bagi saya, berada di depan kanvas dalam waktu yang cukup lama merupakan bagian dari proses melukis itu sendiri.

Lukisan membutuhkan waktu untuk dilihat, bukan hanya dikerjakan.

Empat jam tentu bukan aturan bagi mahasiswa. Saya tidak mengatakan semua orang harus bekerja dengan cara yang sama. Itu hanya kebiasaan yang saya bangun dalam perjalanan saya sendiri. Setiap orang tentu akan menemukan cara kerjanya masing-masing.

Yang penting adalah adanya hubungan yang terus dijaga dengan pekerjaan. Sebab menjadi perupa bukan pekerjaan yang selesai setelah seseorang lulus kuliah. Justru setelah lulus, kita akan berhadapan dengan kehidupan yang lebih luas dan sering kali lebih tidak pasti.

Di situlah integritas dan kesinambungan benar-benar diuji. Apakah kita masih bekerja ketika tidak ada pameran? Apakah kita masih berkarya ketika Belum ada yang  kurator menawarkan program? Belum ada  galeri yang melirik dan  mengundang pameran? Belum ada kolektor yang berminat mengkolesi karya?  Apakah kita masih membaca ketika tidak sedang mengerjakan tugas? Apakah kita masih mau datang ke ruang seni ketika nama kita belum dikenal?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin lebih penting daripada sekadar bagaimana mendapatkan kesempatan pertama. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pameran, pergaulan, komunitas, atau media sosial tidak penting. Semua itu bagian dari kehidupan seni. Tetapi jangan sampai semua aktivitas tersebut membuat kita lupa bahwa inti perjalanan seorang perupa tetap berada pada pekerjaan yang dibuatnya dan kehidupan yang dijalaninya.

Pada akhirnya, layar bisa memperlihatkan ribuan lukisan, tetapi tidak bisa menggantikan pengalaman berdiri di depan satu kanvas selama berjam-jam. Media sosial bisa mempertemukan kita dengan banyak orang, tetapi hubungan yang benar-benar memberi pengalaman tetap membutuhkan perjumpaan.

Informasi bisa datang setiap detik, tetapi pengetahuan yang menjadi bagian dari diri membutuhkan waktu untuk dicerna. Di situlah perbedaan antara mengetahui dan mengalami.

Menjadi perupa lebih banyak berkaitan dengan pengalaman.

Kembali ke teras rumah sore itu, saya melihat mahasiswa-mahasiswa baru tersebut masih terus bertanya. Kadang pertanyaan mereka terasa seperti pertanyaan yang pernah saya ajukan puluhan tahun lalu.

Di situ saya merasa ada sesuatu yang menarik dari perjalanan waktu. Dulu saya yang duduk di hadapan kakak tingkat. Sekarang mahasiswa baru duduk di hadapan saya. Dulu saya yang bertanya bagaimana kehidupan seorang perupa. Sekarang saya yang ditanya bagaimana memulainya. Jaraknya puluhan tahun, tetapi pertanyaannya ternyata masih serupa.

Saya kemudian teringat bahwa mungkin kakak tingkat saya dahulu juga tidak pernah membayangkan bahwa obrolan mereka akan tinggal begitu lama dalam ingatan saya. Bisa jadi bagi mereka itu hanya percakapan biasa. Bagi saya yang sedang mencari jalan, percakapan itu menjadi bagian dari perjalanan.

Sekarang saya mengalami hal yang hampir sama. Kopi diminum perlahan. Camilan berpindah tangan. Rokok menyala lalu mati. Percakapan melompat dari satu persoalan ke persoalan lain. Kadang serius, kadang diselingi tawa.

Tidak ada kesimpulan besar.

Tidak ada yang pulang membawa resep menjadi seniman. Saya hanya membuka sedikit pintu dari pengalaman yang pernah saya jalani. Mereka bebas melihat, mengambil yang mungkin berguna, atau meninggalkannya. Sebab saya tidak ingin mereka menjadi seperti saya. Saya justru berharap mereka menemukan jalan mereka sendiri.

Setiap generasi mempunyai zaman, persoalan, teknologi, lingkungan sosial, dan pengalaman yang berbeda. Yang berubah adalah cara kita menemukan pengetahuan. Yang berubah adalah cara kita bergaul. Yang berubah adalah medan seni dan berbagai kemungkinan di dalamnya.

Tetapi ada sesuatu yang tetap perlu dijaga: kesediaan untuk belajar, keberanian untuk mengalami, kejujuran terhadap pekerjaan, dan kemauan untuk terus bekerja ketika tidak ada yang menjanjikan apa-apa.

Setelah mereka pulang, saya kembali ke studio.

Saya memandang beberapa lukisan yang sedang saya kerjakan. Kemudian saya kembali teringat pada diri saya puluhan tahun lalu. Ketika saya sebagai seorang anak muda yang datang ke Yogyakarta dengan banyak pertanyaan dan sedikit pengetahuan tentang bagaimana kehidupan seorang perupa.

Ternyata perjalanan itu tidak pernah benar-benar berhenti. Apa yang dahulu saya terima dari orang-orang yang lebih dahulu berjalan, sebagian masih hidup dalam cara saya memandang dan menjalani kesenian. Sekarang, ketika saya menceritakannya kepada mahasiswa baru, pengalaman itu seperti mendapatkan jalan lain untuk terus hidup.

Mungkin begitulah kesinambungan dalam kehidupan seni bekerja. Bukan hanya melalui karya yang diwariskan. Bukan hanya melalui nama atau sejarah. Tetapi juga melalui percakapan sederhana yang terjadi di antara sesama perupa. Kadang di ruang kuliah. Kadang di studio. Kadang di sebuah pameran. Kadang di teras rumah, ditemani secangkir kopi, camilan, dan asap rokok. Dulu saya menerima pengalaman itu dari kakak tingkat.

Hari ini saya membaginya kepada mereka.

Dan mungkin suatu hari nanti, ketika mereka sudah menjalani perjalanan masing-masing, mereka akan duduk bersama mahasiswa baru yang lain, lalu bercerita tentang masa ketika mereka juga pernah bertanya:

“Bagaimana sebenarnya memulai menjadi perupa?” Mungkin jawabannya memang tidak pernah benar-benar selesai. Sebab jalan menjadi perupa bukan sesuatu yang sekali ditemukan lalu selesai dijalani. Ia terus dibentuk oleh pekerjaan, pergaulan, kegagalan, pengetahuan, pengalaman, dan waktu.

Dan di antara semua itu, mungkin yang paling sederhana sekaligus paling sulit adalah tetap hadir di hadapan pekerjaan sendiri. Terus belajar. Terus bekerja. Terus menjaga kejujuran terhadap apa yang sedang dijalani.

Sebab pada akhirnya, menjadi perupa bukan hanya tentang bagaimana kita masuk ke dunia seni, tetapi tentang seberapa lama kita sanggup tinggal di dalamnya dengan tetap menjadi diri sendiri. Selebihnya, biarkan waktu yang menguji. Dan biarkan waktu pula yang suatu hari memperlihatkan ke mana jalan itu membawa kita sebagai perupa.


Tertarik dengan karya Secangkir Kopi dan Jalan Menjadi Perupa ini?
Klik tombol di bawah agar terhubung ke whatsapp Admin.


Hubungi Admin
Posting Komentar