Ketika Anda bertanya tentang Kalimantan

Ketika anda bertanya tentang Kalimantan karya Puji Rahayu Pontianak
Visual display melingkar menggunakan pustek dengan alas kain putih

JudulKetika Anda bertanya tentang Kalimantan
MediaKolase Kulit Kayu Kapuak, Kertas tempat Telur, Cat Akrilik dan Benang 
Ukuran16x160x10cm
Tahun2023
StokTersedia

Narasi Karya

Ketika anda bertanya tentang Kalimantan. Dia adakah pulau terbesar di Indonesia. Di sana ada hutan rimba sebagai paru-paru dunia. Ada satwa langka dan tumbuhan liar sebagai tanaman obat. Ada pemerintah dan relasi penguasa. Namun ada juga masyarakat adat yang hidup miskin ditengah kekayaan alamnya. Akhirnya, ada sebuah tanya., untuk siapa Kalimantan?

Ketika anda bertanya tentang Kalimantan karya Puji Rahayu Pontianak
"Ketika Anda bertanya tentang Kalimantan?" Pertanyaan itu hampir selalu dijawab dengan daftar “kebesaran”, pulau terbesar di Indonesia, bentangan hutan hujan tropis yang disebut paru-paru dunia, rumah bagi satwa langka, serta tanah yang menyimpan kekayaan hayati dan sumber daya alam yang melimpah. Kalimantan dikenalkan melalui lanskap yang megah, namun jarang melalui kehidupan orang-orang yang telah lama menjadikan hutan sebagai rumah.

Bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan dapur pertama. Dari sungai, ladang, dan rimba, mereka mengenal rasa, musim, obat, serta cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Makanan menjadi bahasa pertama yang menghubungkan manusia dengan tanahnya. Setiap bahan pangan adalah pengetahuan, setiap hidangan adalah cerita tentang hubungan yang saling menjaga antara manusia dan alamnya. Namun, bahasa itu perlahan berubah. Di balik narasi tentang kekayaan Kalimantan, hadir kekuasaan yang mengubah hutan menjadi komoditas. Ruang hidup menyusut, sumber pangan menghilang, dan masyarakat adat yang selama ini menjaga hutan justru hidup dalam keterbatasan di tengah melimpahnya kekayaan alam. Paradoks ini memperlihatkan bahwa kelimpahan tidak selalu sampai ke meja makan mereka.

Melalui karya ini, makanan diposisikan bukan sebagai objek konsumsi, tetapi sebagai metafora tentang daur kehidupan. Apa yang tersaji, “atau justru tidak tersaji”, menjadi penanda relasi kuasa. Piring yang disajikan dalam karya ini adalah akumulasi kekayaan yang kosong, serta menjadi simbol hilangnya akses terhadap tanah, hutan, dan hak untuk hidup layak.

Ketika anda bertanya tentang Kalimantan karya Puji Rahayu Pontianak
Dalam konteks pameran "Sajian Makanan sebagai Bahasa Pertama", karya ini mengajak pengunjung membaca makanan sebagai bentuk komunikasi yang paling mendasar. Sebelum statistik, sebelum peta konsesi, sebelum pidato tentang pembangunan, meja makan telah lebih dahulu mengungkap kenyataan: siapa yang menikmati hasil bumi, siapa yang menjaganya, dan siapa yang justru tersisih dari kekayaan yang selama ini mereka rawat.

Karya tiga dimensi ini bukan sekadar berbicara tentang Kalimantan sebagai wilayah yang kaya, melainkan tentang bagaimana sebuah hidangan dapat menjadi arsip sosial, menyimpan kisah hutan, kekuasaan, kehilangan, dan harapan. Sebab pada akhirnya, makanan adalah bahasa pertama yang paling jujur untuk menceritakan hubungan manusia dengan alamnya, dan melalui bahasa itulah Kalimantan sedang menyampaikan kisah yang sering luput untuk didengar.

Artist Statement

Bagi saya, karya seni adalah jiwa yang dilahirkan kembali dari dunia. Setiap pengalaman, perjumpaan, ingatan, bentang alam, dan kehidupan manusia menyimpan jejak yang tidak pernah benar-benar hilang. Jejak-jejak tersebut bertransformasi menjadi bahasa visual yang memungkinkan dunia lahir kembali dalam bentuk baru. Proses berkarya bukan sekadar menghadirkan representasi atas realitas, melainkan menghidupkan kembali esensi yang tersembunyi di baliknya. Dalam setiap karya, saya berupaya menangkap denyut kehidupan yang sering luput dari perhatian, sehingga karya menjadi ruang pertemuan antara pengalaman personal, alam, dan keberadaan manusia.

Ketika anda bertanya tentang Kalimantan karya Puji Rahayu Pontianak
Pendekatan artistik saya bertumpu pada eksplorasi material dan teknik sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari makna. Saya mengembangkan teknik kolase dengan memanfaatkan bahan alam, kulit kayu kapuak yang memiliki karakter visual dan tekstur khas. Kehadiran kulit kayu kapuak tersebut bukan hanya menjadi elemen estetis, tetapi juga membawa memori tentang asal-usulnya, tentang tanah tempat ia tumbuh, serta hubungan manusia dengan lingkungan. Tekstur yang tercipta melalui kolase menghadirkan dimensi fisik yang memperkaya pengalaman visual sekaligus memperkuat narasi tentang alam sebagai ruang kehidupan yang terus berubah.

Di atas permukaan bertekstur tersebut, saya mengembangkan teknik pointilis sebagai pendekatan visual yang membangun bentuk melalui ribuan titik. Teknik ini saya gunakan bukan semata-mata sebagai metode pewarnaan, melainkan sebagai metafora tentang kehidupan yang tersusun dari bagian-bagian kecil yang saling terhubung. Setiap titik menjadi representasi dari waktu, napas, pengalaman, dan proses. Pengulangan titik menghadirkan ritme yang meditatif dalam proses berkarya, sekaligus membentuk ruang visual yang dinamis. Perpaduan antara kolase berbahan alam dan pengembangan teknik pointilis menciptakan dialog antara material, tekstur, cahaya, dan warna yang menjadi karakter utama dalam karya-karya saya.Tema yang paling sering saya angkat adalah alam dan perempuan. Keduanya saya pandang sebagai dua entitas yang memiliki hubungan yang erat: sama-sama menjadi sumber kehidupan, memiliki kemampuan untuk tumbuh, merawat, sekaligus bertahan menghadapi berbagai perubahan. Alam bukan sekadar latar bagi kehidupan manusia, melainkan bagian dari identitas yang membentuk cara kita memandang dunia. Demikian pula perempuan, yang tidak hanya hadir sebagai objek visual, tetapi sebagai subjek yang memiliki pengalaman, kekuatan, dan kebijaksanaan. Melalui karya, saya berusaha memperlihatkan relasi yang saling menghidupi antara tubuh perempuan, alam, dan ruang tempat keduanya berkembang.

Ketika anda bertanya tentang Kalimantan karya Puji Rahayu Pontianak
Sebagai seorang seniman perempuan yang berasal dari Kalimantan Barat, posisi tersebut menjadi bagian penting dalam praktik artistik saya. Kalimantan Barat dengan kekayaan hutan tropis, sungai, keanekaragaman hayati, serta keragaman budaya memberikan sumber inspirasi yang terus hidup dalam proses penciptaan. Kedekatan dengan lingkungan ini membentuk sensitivitas saya terhadap isu-isu ekologis, perubahan lanskap, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Di sisi lain, pengalaman sebagai perempuan memberikan perspektif mengenai identitas, ketahanan, perawatan, dan hubungan antargenerasi yang kemudian hadir dalam bahasa visual karya saya.

Melalui praktik berkarya ini, saya ingin menghadirkan karya yang tidak hanya menawarkan pengalaman estetis, tetapi juga mengajak penonton untuk membangun kembali hubungan yang lebih peka dengan alam dan sesama manusia. Setiap tekstur, setiap titik, dan setiap material menjadi bagian dari narasi yang menegaskan bahwa kehidupan selalu terhubung dalam satu kesatuan. Dengan demikian, karya saya menjadi ruang kontemplasi tentang kelahiran kembali jiwa dunia—sebuah upaya untuk merawat ingatan, menghormati alam, dan merayakan kekuatan perempuan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan kehidupan.

Manifesto Pribadi

Ketika anda bertanya tentang Kalimantan karya Puji Rahayu Pontianak
Keyakinan saya sebagai seorang Muslim menjadi landasan spiritual dalam memandang seni sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengenali kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Alam yang saya hadirkan dalam karya bukan sekadar objek visual, melainkan ayat-ayat kauniyah yang mengingatkan manusia akan keseimbangan, keindahan, serta tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Bagi saya, proses berkarya adalah bentuk tafakur, ibadah kebudayaan tentang perenungan kehidupan, merawat rasa syukur, dan menyadari bahwa setiap ciptaan memiliki makna yang saling terhubung.

Pandangan tersebut berpadu dengan nilai-nilai kesukuan yang hidup di Kalimantan Barat, tempat saya tumbuh dan membentuk identitas sebagai seniman perempuan. Keragaman budaya masyarakat di wilayah ini mengajarkan penghormatan terhadap alam, semangat kebersamaan, ketangguhan dalam menghadapi perubahan, serta pentingnya menjaga harmoni antara manusia, lingkungan, dan tradisi. Nilai-nilai tersebut saya hayati bukan sebagai romantisasi masa lalu, melainkan sebagai pengetahuan yang tetap relevan dalam menghadapi tantangan masa kini.

Saya meyakini bahwa kehidupan adalah perjalanan yang terus bergerak dan berubah. Tidak ada keadaan yang benar-benar tetap; setiap fase menghadirkan ujian, kehilangan, harapan, dan kesempatan untuk bertumbuh. Setiap perubahan adalah bagian dari ketetapan Allah yang mengandung hikmah, sementara manusia dituntut untuk berikhtiar, bersabar, dan tetap menjaga integritasnya. Karena itu, saya memandang proses berkarya adalah sebuah kembara  diri  untuk memahami arti kehidupan itu sendiri, belajar untuk bertahan, beradaptasi, dan melangkah melalui proses kehidupan.

Ketika anda bertanya tentang Kalimantan karya Puji Rahayu Pontianak
Prinsip inilah yang mendasari praktik berkesenian saya. Setiap tekstur, titik, dan material alam yang saya gunakan merekam perjalanan tersebut, tentang ketekunan, kesabaran, dan harapan. Melalui karya, saya berusaha menghadirkan ruang refleksi bahwa seni tidak hanya menjadi ekspresi estetis, tetapi juga kesaksian atas perjalanan iman, identitas budaya, dan daya juang manusia dalam menjalani kehidupan yang senantiasa berubah.

Keterangan Tambahan

Kebutuhan Display: Display di lantai dan pencahayaan dari atas, membulat pada bagian karya (jika memungkinkan). 

Tertarik dengan karya Ketika Anda bertanya tentang Kalimantan ini?
Klik tombol di bawah agar terhubung ke whatsapp Admin.


Hubungi Admin
Posting Komentar