Pameran Drawing Borneo Metamorfosa 5

pameran drawing borneo metamorfosa #5

Pameran Drawing Borneo Metamorfosa #5

Pelaksanaan 20 – 23 Mei 2026, Gelanggang Olah Raga Nasional Paralympic Committe Of Indonesia Kalimantan Barat (GOR NPCI/ Gedung RRI Lama) Jl. Maluku No. 27, Pontianak, Kalimantan Barat

Tema: Borneo UnLock 

Dialektika Karya Seniman Kalbar dalam Seni Drawing Kontemporer

Seni drawing Kalbar selama ini kerap ditempatkan sebagai perpanjangan tradisi visual yang mapan: motif-motif etnik, simbol kosmologis kesukuan, figur mitologis, serta ornamen alam yang berulang dari generasi ke generasi. Pakem tersebut membentuk identitas yang kuat, namun sekaligus menghadirkan batas, sebuah zona aman yang tidak disadari membuat batasan eksplorasi artistik. Kegelisahan tersebut membuat beberapa perupa Kalbar mengambil keputusan membuka kembali wajah lokal dan realitas pengkaryaan melalui semangat kekinian, namun tanpa memutus akar kulturalnya. Artinya lebih menekankan pengembangan imajinasi dan rekonstruksi visual karya.

“Borneo UnLock” tidak dimaknai sebagai penolakan atau pengingkaran tradisi. Sebaliknya, dimaknai sebagai “bermetamorfosa” atau pembacaan ulang proses dekonstruksi yang menempatkan gaya menggambar sebagai medan dialog, bukan dogma yang melulu bicara tradisi. Seniman dianjurkan memposisikan seni menggambar untuk merespons ketegangan antara warisan leluhur dan realitas kekinian, fenomena sosial sekarang, sampai pada perkembangan digital teknologi dalam wacana modernitas dengan tafsir bebas. Artinya garis, arsiran, dan gestur visual menjadi bahasa yang cair untuk menegosiasikan identitas di tengah arus modernitas.

Modernitas hadir tidak hanya sebagai tema, tetapi sebagai kondisi dan gaya hidup. Perubahan lanskap visual karya perupa kalbar jika dihubungkan dengan termin ekologis, sosial, maupun kultural, kini sudah mencair dan mempengaruhi cara seniman kalbar memandang tradisi maupun fenomena sosial dalam dunia modern. Motif-motif yang dahulu sakral, kini muncul terdistorsi, terfragmentasi, bahkan disandingkan dengan simbol urban, teknologi, dan imaji pop, atau bisa saja meninggalkan cerita Kalbar itu sendiri. Dalam konteks ini, seniman borneo metamorfosa menyadari ada ruang yang sudah lama dilupakan, yaitu ruang dialektika pengkaryaan: tempat tradisi dan modernitas saling berhadapan, bernegosiasi, melahirkan bentuk dan makna baru, dengan semangatnya yang baru.

Pendekatan visual yang ditawarkan tidak lagi terikat pada estetika etnografis yang menekankan visual etnisitas. Seniman Borneo Metamorfosa sudah berani memanfaatkan gaya kontemporer, seperti ekspresionisme garis, abstraksi simbolik, hingga narasi visual personal yang liar tak bertepi. Sementara jejak rasa Kalbar tetap hadir, bukan sebagai ornamen tempelan, melainkan sebagai memori kultural yang terinternalisasi. Ia muncul dalam ritme garis, struktur komposisi, atau cara seniman memaknai ruang dan tubuh dalam dialog kekaryaannya. Tradisi tidak lagi terlihat secara harfiah, tetapi terasa sebagai “roh” yang menggerakkan karya menuju semangat kebaruan saat ini.

Pameran Borneo Metamorfosa juga menandai pergeseran posisi seni drawing yang dianggap tidak lagi berfungsi sebagai alat pelestarian semata, melainkan sebagai medium refleksi kritis. Seniman berbicara tentang identitas hibrid: menjadi Kalbar di tengah dunia global, menjadi modern tanpa tercerabut dari asal-usul, walau kadang terlalu kabur sekalipun, dialektika ini tetap akan menghasilkan karya-karya yang bersifat cair dan terbuka terhadap tafsir.

Jiwa kekinian tercermin melalui eksperimentasi dan sikap reflektif terhadap realitas sosial. Isu lingkungan, urbanisasi, krisis identitas, hingga relasi manusia dengan alam diolah melalui bahasa visual yang lebih bebas. Drawing menjadi semacam catatan mental, intim, spontan, dan jujur: yang mencerminkan kegelisahan pencarian hari ini. Dalam proses tersebut, tradisi tidak hilang, tetapi bertransformasi: dari simbol kolektif menjadi pengalaman subjektif.

Melalui pameran Borneo Metamorfosa #5, seni menggambar di Kalimantan Barat sudah menjelajahi medan pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Ia tidak berdiri pada romantisme tradisi, namun juga tidak larut dalam modernitas tanpa identitas. Posisi antara ruang negosiasi yang memungkinkan identitas terus bergerak, tumbuh, dan didefinisikan ulang dalam semangat kekinian. Dengan demikian, Borneo UnLock atau keluar dari pakem bukanlah akhir dari tradisi, melainkan cara baru untuk memastikan tradisi tetap hidup dan relevan di setiap zaman.

Ketentuan Pameran

  1. Masing-masing seniman dikenakan biaya patungan pameran Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah).
  2. Biaya patungan di setorkan paling lambat tanggal 15 Mei 2026 di transfer melalui Rekening BRI 304701008384502 an. FERDINAN, S SN
  3. Konsep karya bebas dalam wacana modernitas dan semangat kekinian, yang merujuk pada kurasi.
  4. Karya merupakan karya terbaru atau karya dalam kurun waktu 2 tahun terakhir (2025 – 2026).
  5. Karya yang diajukan untuk pameran adalah karya 2 Dimensi di kertas dengan ukuran minimal A3 dan maksimal A2.
  6. Satu seniman minimal mengajukan 5 karya dan paling banyak 10 karya karya.
  7. Pengantaran dan pengembalian karya ditanggung seniman.
  8. Karya harus dibingkai triplek yang dibungkus plastik bening.
  9. Seniman harus menyertakan data karya berupa: curriculum vittae, foto diri terbaru (close up), data karya, foto karya dan konsep karya, dalam bentuk file pdf, dikirim paling lambat tanggal 1 Mei 2026 melalui link  https://forms.gle/syUrVDSgYqnYPQPf6
  10. Karya dikirim atau diantar langsung ke Gedung Pameran dengan alamat:
    SEKRETARIAT PAMERAN DRAWING BORNEO METAMORFOSA #5
    PENERIMA: PUJI RAHAYU, S.Sn.
    KONTAK: 0811 5686 866
    ALAMAT
    Gelanggang Olah Raga
    National Paralympic Committe Of Indonesia Kalimantan Barat
    Jalan Maluku No. 27 Pontianak, Kalimantan Barat
    (GOR NPCI/ Gedung RRI Lama)
  11. Kurator Puji Rahayu, S.Sn. Kontak 0811 5686 866


Tertarik dengan karya Pameran Drawing Borneo Metamorfosa 5 ini?
Klik tombol di bawah agar terhubung ke whatsapp Admin.


Hubungi Admin
Posting Komentar