Pameran Seni Rupa BORNEO METAMORFOSA 2026

lukisan trilogi dayak karya puji rahayu pontianak
PUJI RAHAYU, Trilogi Dayak, 200x150cm, Akrilik di Kanvas, 2024


BORNEO METAMORFOSA
Tradisi yang Bergerak dalam Modernitas dan Semangat Kekinian

Pameran Seni Rupa BORNEO METAMORFOSA 2026 berangkat dari pemahaman bahwa tradisi bukanlah warisan yang berhenti pada masa lalu, melainkan pengetahuan budaya yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Dalam perspektif folklore, tradisi hidup melalui proses pewarisan, penafsiran ulang, dan adaptasi terhadap konteks zamannya. Oleh karena itu, tradisi tidak dapat dipahami sebagai bentuk yang tetap, tetapi sebagai praktik budaya yang senantiasa mengalami transformasi.

Pameran ini menjadikan folklore Kalimantan sebagai titik berangkat penciptaan seni rupa kontemporer. Folklore dipahami tidak hanya sebagai cerita rakyat atau mitologi, melainkan sebagai keseluruhan sistem pengetahuan masyarakat yang mencakup simbol, ritual, kepercayaan, bahasa visual, relasi manusia dengan alam, hingga ingatan kolektif yang membentuk identitas budaya Kalimantan.

Melalui praktik artistik, para seniman diajak membaca kembali berbagai unsur tersebut untuk diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang sesuai dengan realitas hari ini. Proses tersebut bukan sekadar reproduksi bentuk-bentuk tradisional, melainkan transformasi yang melahirkan makna baru. Di sinilah istilah metamorfosa memperoleh relevansinya: perubahan bentuk, medium, dan cara baca tanpa memutus hubungan dengan akar budaya yang melahirkannya.

Dalam kajian budaya, tradisi selalu hadir melalui proses negosiasi antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan inovasi. Modernitas menghadirkan perubahan sosial, perkembangan teknologi, urbanisasi, mobilitas budaya, hingga globalisasi yang terus mempengaruhi cara masyarakat memahami identitasnya. Situasi tersebut menjadikan tradisi bukan sekadar objek pelestarian, tetapi ruang dialog yang terbuka terhadap berbagai tafsir baru, terhadap berbagai pola pikir baru, dan bagaimana masyarakat menerima serta menjalankan pola kehidupan terhadap suatu yang berdesakan dengan desain kebaruan.

BORNEO METAMORFOSA memandang seni rupa sebagai ruang tempat negosiasi itu berlangsung. Karya-karya yang hadir memperlihatkan bagaimana simbol, mitologi, ornamen, ritual, lanskap, maupun nilai-nilai budaya Kalimantan mengalami pembacaan ulang melalui berbagai medium, seperti lukisan, patung, kriya, instalasi, media baru, fotografi, videografi, maupun praktik lintas disiplin. Tradisi tidak diposisikan sebagai estetika yang harus dipertahankan secara literal, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang terus berkembang melalui pengalaman personal, sosial, dan ekologis para seniman.

Pameran ini juga menempatkan perubahan sebagai bagian inheren dari kebudayaan. Setiap transformasi selalu melahirkan dialektika: antara yang sakral dan profan, lokal dan global, adat dan kehidupan urban, manusia dan alam, memori dan masa depan. Ketegangan tersebut bukan dipandang sebagai ancaman terhadap tradisi, melainkan sebagai ruang lahirnya bentuk-bentuk budaya baru yang tetap membawa nilai-nilai lokal, tradisi dalam inovasi.

Di tengah percepatan perubahan sosial, folklore Kalimantan menghadapi tantangan sekaligus peluang. Sebagian unsur budaya mengalami pergeseran fungsi, sebagian lain menemukan medium ekspresi baru melalui teknologi digital dan praktik seni kontemporer. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan budaya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan bentuk lama, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk terus menafsirkan, menghidupkan, dan mengontekstualisasikannya.

Dengan demikian, pameran seni rupa BORNEO METAMORFOSA 2026 tidak hanya menghadirkan karya-karya yang berangkat dari tradisi Kalimantan, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai bagaimana identitas budaya dibangun, dinegosiasikan, dan diproyeksikan ke masa depan. Pameran ini mengajak publik melihat bahwa folklore bukan sekadar jejak sejarah, melainkan pengetahuan hidup yang terus bertransformasi melalui praktik kreatif.

Pada akhirnya, metamorfosa dipahami sebagai proses keberlanjutan budaya. Metamorfosa budaya tidak dimaknai sebagai penghilangan identitas, tetapi sebagai mekanisme yang memungkinkan tradisi tetap hidup, relevan, dan mampu berdialog pada setiap zaman. Melalui pameran seni rupa BORNEO METAMORFOSA 2026 menghadirkan ruang perjumpaan antara ingatan budaya, praktik artistik, dan masa depan Borneo yang terus berkembang bergerak dan berubah.

Pontianak, 9 Juli 2026
Puji Ragayu, S. Sn.


Tertarik dengan karya Pameran Seni Rupa BORNEO METAMORFOSA 2026 ini?
Klik tombol di bawah agar terhubung ke whatsapp Admin.


Hubungi Admin
Posting Komentar