Lukisan Menuju Cahaya
Data Karya
| Harga | Rp. 15.000.000,- |
| Judul | Menuju Cahaya |
| Media | Kulit Kayu Kapuak dan Akrilik di Kanvas |
| Ukuran | 150x120cm |
| Tahun | 2021 |
| Stok | Tersedia |
Narasi Karya
“Menuju Cahaya” merupakan karya lukis yang memvisualisasikan bunga terung sebagai metafora perjalanan manusia dalam mencapai makna hidup melalui perjuangan, keberanian, pencapaian, dan pengabdian kepada masyarakat. Susunan bunga terung yang bergerak secara spiral dari ruang luar menuju pusat menggambarkan tahapan perjalanan manusia, sedangkan pusat karya menjadi simbol cahaya sebagai pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebermanfaatan. Penggunaan cat akrilik, kulit kayu kapuak, serta teknik pointilis memperkuat hubungan antara manusia, alam, budaya, dan proses kehidupan. Setiap titik dan setiap bunga menjadi representasi dari pengalaman kecil yang secara bersama-sama membentuk sebuah perjalanan besar menuju pencapaian dan cahaya.”
Konsep Penciptaan
Karya “Menuju Cahaya” berangkat dari pemaknaan bunga terung dalam kehidupan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, khususnya dalam konteks Dayak Iban, Dayak Taman, dan Dayak Kayaan. Bunga terung tidak hanya dipahami sebagai bentuk ornamen atau motif tato, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan perjalanan hidup, keberanian, pencapaian, pengabdian, dan kedudukan seseorang dalam masyarakat.
Dalam konsep karya ini, pencapaian seseorang tidak diukur semata-mata melalui kepemilikan materi atau kekayaan. Nilai seseorang justru tercermin melalui seberapa jauh ia berjuang, memberikan manfaat, menjaga adat, serta mengabdikan dirinya bagi masyarakat, suku, dan kampung halamannya. Oleh karena itu, bunga terung diposisikan sebagai metafora perjalanan manusia dalam menemukan makna kehidupan dan mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi. Sebuah perjalanan manusia menuju cahaya dan pencerahan.
Perjalanan tersebut divisualisasikan melalui susunan bunga terung yang bergerak dari bagian luar menuju pusat, membentuk kesan spiral atau pusaran. Gerak visual tersebut menjadi simbol perjalanan manusia yang tidak selalu lurus, melainkan melalui berbagai tahapan, pengalaman, tantangan, dan perjuangan sebelum akhirnya mencapai “cahaya”.
Gagasan utama karya adalah perjalanan manusia Dayak menuju pencapaian hidup yang memiliki nilai bagi orang lain. Bentuk bunga terung dalam karya tidak ditempatkan hanya sebagai dekorasi, tetapi dijadikan simbol perjalanan dan transformasi. Setiap bunga dapat dimaknai sebagai tahapan kehidupan: lahir, belajar, berjuang, menghadapi rintangan, memperoleh pengalaman, mengabdi, hingga mencapai keberhasilan yang kemudian memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pusat karya menjadi tujuan perjalanan, yaitu sebuah titik simbolis tempat berkumpulnya seluruh pengalaman dan perjuangan. Dari pusat tersebut, cahaya dimaknai bukan sekadar cahaya secara fisik, tetapi sebagai pengetahuan, kebijaksanaan, keberanian, pengabdian, dan kemampuan untuk menerangi kehidupan masyarakat. Dengan demikian, “cahaya” dalam karya merupakan kondisi ketika pencapaian pribadi tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mampu menjadi penerang bagi rakyat, kampung, adat, dan budaya.nya
Konsep Visual
Secara visual, karya mengacu pada struktur gambar lampiran yang menampilkan bentuk-bentuk bunga terung secara berulang dan konsentris, dengan susunan yang mengarahkan pandangan dari bagian luar menuju pusat. Komposisi tersebut membangun kesan spiral, sehingga mata penonton seolah-olah diajak mengikuti sebuah perjalanan menuju titik pusat. Seentara konsep visual yang dihadirkan adalah:
- Bunga terung sebagai simbol utama perjuangan, pencapaian, keberanian, dan status sosial yang diperoleh melalui jasa.
- Susunan konsentris/spiral sebagai metafora perjalanan hidup manusia.
- Pusat lingkaran sebagai tujuan akhir atau pencapaian tertinggi.
- Cahaya/warna terang pada bagian tertentu sebagai simbol harapan, pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengabdian.
- Warna hitam sebagai representasi tantangan, perjalanan, keteguhan, serta berbagai rintangan kehidupan.
- Warna merah sebagai simbol keberanian, semangat, daya juang, energi kehidupan, dan pengorbanan.
- Warna cokelat dari kulit kayu kapuak menghadirkan hubungan manusia dengan alam, tanah leluhur, tradisi, serta material budaya.
- Warna putih menjadi ruang yang memberikan kesan cahaya dan membuka jalan menuju pusat komposisi.
Komposisi spiral merupakan salah satu aspek penting dalam karya ini. Spiral tidak hanya berfungsi untuk menciptakan keindahan visual, tetapi menjadi bahasa simbolik. Bagian luar dapat dimaknai sebagai awal perjalanan manusia. Di tahap ini seseorang masih berada dalam ruang kehidupan yang luas dan penuh ketidakpastian.
Bagian tengah merupakan fase perjuangan. Berbagai bunga terung yang berulang menunjukkan pengalaman, tantangan, keberhasilan, kegagalan, pembelajaran, serta proses pembentukan karakter. Bagian pusat merupakan pencapaian. Namun pencapaian tersebut bukan dimaknai sebagai akhir kehidupan, melainkan sebagai titik ketika seseorang telah memiliki kemampuan untuk memberikan cahaya kepada lingkungan di sekitarnya.
Karya dibuat menggunakan cat akrilik dan kulit kayu kapuak di atas kanvas. Pemilihan kulit kayu kapuak tidak hanya mempertimbangkan aspek tekstural, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan material yang memiliki hubungan dengan alam dan lingkungan budaya Kalimantan. Cat akrilik digunakan untuk membangun warna, bidang, kedalaman, dan kontras visual. Sementara itu, kulit kayu kapuak berfungsi memberikan tekstur alami yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh melalui sapuan cat.
Teknik utama yang digunakan adalah pointilis, yaitu membangun bentuk, warna, volume, dan atmosfer melalui susunan titik-titik. Titik-titik tersebut menjadi bagian penting dari konsep karena secara simbolis dapat dibaca sebagai kumpulan pengalaman kecil yang secara bertahap membentuk perjalanan hidup seseorang. Satu titik mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika ribuan titik dikumpulkan, terbentuklah sebuah gambaran yang utuh. Hal ini sejalan dengan gagasan bahwa pencapaian besar manusia terbentuk dari proses, pengalaman, pengorbanan, dan perjuangan yang berlangsung sedikit demi sedikit.
Setiap pengulangan bunga tidak dimaksudkan sebagai pengulangan bentuk semata. Bunga menjadi representasi manusia yang sedang menempuh perjalanan hidupnya. Ada bunga yang berukuran besar, kecil, berada dekat pusat, maupun jauh dari pusat. Perbedaan tersebut dapat menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki perjalanan, pengalaman, dan pencapaian yang berbeda. Pada akhirnya, keberhasilan tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Puncak perjalanan justru ditandai ketika seseorang mampu “menjadi cahaya” bagi orang lain.
Penerapan teknik pointilis memiliki hubungan konseptual yang kuat dengan tema karya. Titik-titik yang terpisah jika dilihat dari jarak dekat tampak sebagai unsur-unsur kecil yang berdiri sendiri. Namun ketika dilihat secara keseluruhan, titik-titik tersebut membentuk gambar dan makna yang lebih besar.
Sebuah analogi perjalanan manusia: Tidak ada pencapaian yang terbentuk secara tiba-tiba. Setiap pengalaman kecil, perjuangan, kegagalan, keberanian, dan pengabdian merupakan titik-titik yang pada akhirnya membentuk perjalanan kehidupan seseorang. Teknik bukan hanya metode visual, tetapi menjadi bagian dari gagasan karya.
Penggunaan kulit kayu kapuak pada kanvas memberikan dimensi material sekaligus simbolik. Material alami tersebut menghadirkan hubungan antara karya dengan alam, leluhur, ruang hidup, dan lingkungan budaya Kalimantan. Kulit kayu juga memiliki karakter permukaan yang tidak seragam. Retakan, serat, warna, dan bentuk alaminya dapat dipertahankan sebagai bagian dari karya. Ketidaksempurnaan tersebut justru dapat dimaknai sebagai representasi bahwa perjalanan manusia juga tidak pernah sepenuhnya mulus.
Melalui karya “Perjalanan Menuju Cahaya”, pencipta ingin menyampaikan bahwa nilai seorang manusia tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh apa yang telah diperjuangkan dan diberikan kepada orang lain. Perjalanan menuju pencapaian merupakan proses panjang yang membutuhkan keberanian, ketekunan, pengorbanan, pengetahuan, serta kesetiaan terhadap nilai-nilai yang diyakini. Dalam konteks masyarakat Dayak, pencapaian tersebut memiliki hubungan erat dengan suku, adat, kampung halaman, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Cahaya yang berada di ujung perjalanan menjadi simbol bahwa pencapaian tertinggi bukanlah ketika seseorang hanya berhasil untuk dirinya sendiri, melainkan ketika keberhasilannya mampu menerangi dan memberikan manfaat bagi masyarakat, adat, dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupannya.
Tertarik dengan karya Lukisan Menuju Cahaya ini?
Klik tombol di bawah agar terhubung ke whatsapp Admin.
Hubungi Admin
Kategori :
dekoratif,
lukisan,
mixed media,
- Lukisan Menuju Cahaya - - Powered by Blogger. Jika ingin menyebarluaskan atau mengcopy paste artikel Lukisan Menuju Cahaya, harap menyertakan link artikel ini sebagai sumbernya. Terima kasih.




