Mengayuh Harapan
![]() |
| Lukisan Mengayuh Harapan karya Puji Rahayu, Pontianak 2019 |
Data Karya
| Harga | Rp. 15.000.000,- |
| Judul | Mengayuh Harapan |
| Media | Kulit Kayu Kapuak dan Akrilik di Kanvas |
| Ukuran | 120x100cm |
| Tahun | 2019 |
| Stok | Tersedia |
Narasi Karya
“Mengayuh Harapan” memaknai perjalanan manusia sebagai sebuah proses kolektif yang terus bergerak di antara arus sungai, tanah, alam, dan kehidupan sosial. Setiap sampan adalah manusia yang mengayuh kehidupannya, setiap titik adalah bagian kecil dari proses peradaban, dan pusaran adalah siklus kehidupan yang mempertemukan manusia dengan alam. Harapan bukan sesuatu yang sekadar dinantikan, melainkan sesuatu yang diwujudkan melalui usaha, kebersamaan, dan kesadaran untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
Konep Penciptaan
“Mengayuh Harapan” merupakan karya seni lukis yang merefleksikan hubungan antara sungai, tanah, alam, dan masyarakat sebagai unsur yang saling berkaitan dalam lahir dan berkembangnya suatu peradaban. Sungai tidak hanya dipahami sebagai aliran air, tetapi sebagai nadi kehidupan yang menghubungkan ruang, manusia, kebudayaan, serta aktivitas masyarakat. Sementara itu, tanah bukan sekadar tempat berpijak, melainkan ruang tumbuh yang menyimpan sejarah, identitas, pengalaman, dan harapan bagi keberlangsungan kehidupan. Di antara keduanya, masyarakat berperan sebagai penggerak sekaligus penjaga yang menentukan bagaimana alam dimanfaatkan, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Gagasan penciptaan karya ini berangkat dari kesadaran bahwa kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari lingkungan alam yang menopangnya. Sungai menyediakan sumber kehidupan dan menjadi jalur penghubung antarruang, sedangkan tanah menjadi tempat membangun kehidupan, mengembangkan kebudayaan, serta meneruskan nilai-nilai sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hubungan tersebut kemudian divisualisasikan melalui metafora perjalanan menggunakan sampan, sebagai gambaran perjalanan manusia dalam menjalani kehidupan dan membangun masa depan bersama.
Karya “Mengayuh Harapan” menerapkan penciptaan karya melalui mix media, pencampuran cat akrilik dan kulit kayu kapuak di atas kanvas. Kulit kayu kapuak dimanfaatkan sebagai material utama untuk membentuk figur-figur sampan, sedangkan cat akrilik digunakan untuk membangun latar, aliran, pusaran, serta keseluruhan atmosfer visual karya. Pemanfaatan material alami tersebut tidak semata-mata bertujuan menghadirkan nilai estetis dan tekstural, tetapi juga menjadi bagian dari gagasan karya mengenai kedekatan manusia dengan alam. Karakter alami kulit kayu, seperti warna, serat, dan teksturnya, dipertahankan sebagai jejak material yang membawa kesan ekologis sekaligus menghubungkan karya dengan pengalaman dan lingkungan budaya masyarakat.
Teknik pointilis diterapkan pada bidang kanvas melalui susunan titik-titik yang membentuk aliran, gelombang, pusaran, serta perubahan gelap-terang. Titik-titik tersebut tidak hanya berfungsi sebagai unsur pembentuk visual, tetapi juga memiliki makna simbolik. Setiap titik dapat dimaknai sebagai bagian kecil dari kehidupan, berupa tindakan, pengalaman, pilihan, nilai, dan proses yang apabila terhimpun akan membentuk sesuatu yang lebih besar. Dalam konteks kebudayaan, titik-titik tersebut dapat dimaknai sebagai tindakan-tindakan kecil masyarakat dalam mempertahankan adat, tradisi, hubungan sosial, dan lingkungan. Dengan demikian, keseluruhan bidang karya menjadi gambaran bahwa sebuah peradaban terbentuk melalui proses yang panjang dan tersusun dari berbagai unsur yang saling berkaitan.
Dominasi warna coklat dipilih untuk memperkuat karakter material kulit kayu sekaligus menghadirkan kesan natural, hangat, membumi, dan dekat dengan alam. Warna tersebut juga memiliki keterkaitan dengan tanah dan kayu sebagai simbol kehidupan yang berakar pada lingkungan. Perpaduan nuansa coklat dengan variasi terang dan gelap melalui teknik pointilis menciptakan kedalaman, ritme, serta kesan gerak pada permukaan kanvas. Kontras antara bidang yang dipenuhi titik-titik dengan bentuk sampan dari kulit kayu menghasilkan hubungan visual antara alam sebagai ruang kehidupan dan manusia sebagai bagian di dalamnya.
Pola spiral atau pusaran yang terbentuk dalam komposisi menjadi simbol dinamika dan siklus kehidupan. Gerakan melingkar tersebut menggambarkan hubungan yang terus berlangsung antara sungai, tanah, manusia, dan kebudayaan. Sungai menghidupi tanah, tanah menopang kehidupan manusia, manusia mengolah dan memanfaatkan lingkungan, kemudian manusia pula yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungannya. Siklus tersebut menunjukkan bahwa kehidupan tidak berdiri sendiri, melainkan berlangsung melalui hubungan timbal balik. Pusaran juga menyiratkan bahwa perjalanan menuju harapan tidak selalu berjalan lurus; terdapat arus, perubahan arah, tantangan, dan proses yang harus dilalui sebelum mencapai tujuan.
Dalam karya ini, “mengayuh” tidak hanya merujuk pada aktivitas mendayung sampan, tetapi menjadi metafora tentang usaha, ketekunan, kebersamaan, dan perjuangan manusia dalam mempertahankan kehidupan. Sementara itu, “harapan” bukan dimaknai sebagai sesuatu yang pasif dan hanya dinantikan, melainkan sebagai sesuatu yang harus diwujudkan melalui tindakan. Setiap kayuhan menjadi simbol usaha kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Kayuhan tersebut mungkin tidak langsung membawa seseorang pada tujuan, tetapi melalui kesinambungan dan ketekunan, perjalanan akan tetap bergerak.
Lukisan “Mengayuh Harapan” merupakan refleksi tentang perjalanan kolektif manusia dalam membangun kehidupan dan peradaban dengan tetap menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Karya ini menyampaikan bahwa keberlangsungan sebuah peradaban tidak semestinya dibangun melalui dominasi manusia terhadap alam, tetapi melalui kesadaran untuk hidup berdampingan, menghormati, memanfaatkan secara bijaksana, dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri.
Pada akhirnya, karya ini menegaskan bahwa sungai, tanah, alam, masyarakat, dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang saling menopang. Harapan terhadap masa depan tidak lahir dari satu individu, melainkan dari kesadaran dan tindakan bersama. Selama manusia terus mengayuh dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan tersebut, perjalanan kehidupan akan tetap memiliki arah. “Mengayuh Harapan” menjadi simbol bahwa masa depan yang baik bukan sekadar sesuatu yang ditunggu, tetapi sesuatu yang diperjuangkan, dibangun, dan dijaga bersama.
Simulasi Display Karya
![]() |
| Display lukisan di ruang keluarga |
![]() |
| Display lukisan di ruang tamu |
![]() |
| Display lukisan di ruang kerja |
Puji Rahayu, S.Sn., pada Pameran Besar Seni Rupa "Kayuh Baimbai", Samarinda, 2019
![]() |
| Puji Rahayu bersama Kurator |
Kuratorial Bambang Asrini Wijanarko
Puji Rahayu, perupa dari Kalimantan Barat, memilih seperti gugusan obyek-obyek kecil berdimensi menonjol keluar dari kanvas lukisan, semacam relief, sekilas kita melihat seperti perahu-perahu kecil berputar, membuat konfigurasi.Puji memberi juluk Mengayuh Harapan, yang bisa menjadi refleksi personal seniman bahwa Pulau Borneo yang identik dengan kehidupan sungai, sepanjang peradaban tua-nya, memberi inspirasi terhadap pengalaman-pengalaman material pun spiritual baginya.“Kayuh, yakni upaya mengayuh di sungai dengan perahu, adalah simbol perjuangan dalam menumpang “bahtera hidup” secara lahir dan batin. Gelombang rintangan yang menghadang tentu saja akan selalu terjadi di tiap perjalanan dari kita” ungkapnya, dalam narasi karya.Menurut Puji, Mengayuh Harapan, bukan berarti telah lepas dari musibah, mengakhiri sebuah tantangan, namun silih berganti menghadapi yang terperih dan paling membahagiakan bagi tiap manusia, bumi dan seluruh alam dalam kehidupan ini.Karya puji ini cukup menarik, jika dilihat dari sisi depan dan agak menyamping karena dari situ kita bisa lihat kayuh-kayuh itu sedang menonjolkan “pertarungan dengan ombak”, semenjak awal, tatkala sauh hendak dilabuhkan, ia menyambut kelak hari esok menuju horizon sungai-sungai di Kalimantan tanpa batas.Sumber: kompas.com
![]() |
| Kuratorial Lukisan Mengayuh Harapan karya Puji Rahayu, S.Sn. |
![]() |
| Puji Rahayu bersama Pejabat Kalrim |
![]() |
| Puji Rahayu bersama Sneiman Kaltim |
![]() |
| Puji Rahayu bersama Iin (alumi ISI Yogyakarta) |
![]() |
| Puji Rahayu bersama Fitri (dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) |
![]() |
| Puji Rahayu bersama Kurator |
Tertarik dengan karya Mengayuh Harapan ini?
Klik tombol di bawah agar terhubung ke whatsapp Admin.
Hubungi Admin
Kategori :
dekoratif,
lukisan,
mixed media,
- Mengayuh Harapan - - Powered by Blogger. Jika ingin menyebarluaskan atau mengcopy paste artikel Mengayuh Harapan, harap menyertakan link artikel ini sebagai sumbernya. Terima kasih.

.jpg)
.jpg)



.jpeg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
