Dayak Trilogi

 

trilogi karya puji rahayu

HargaRp. 20.000.000
JudulTrilogi
MediaAkrilik dan Kulit Kayu Kapuak di Kanvas
Ukuran200x150cm
Tahun2024
StokTersedia

Deskripsi Karya

Dayak's Trilogi merepresentasikan pandangan kosmologis masyarakat Dayak tentang tiga dunia: dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Dunia atas melambangkan ruang sakral tempat leluhur dan roh-roh mulia bersemayam sebagai sumber tuntunan dan kebajikan. Dunia tengah merupakan ruang kehidupan manusia untuk menjalani perjalanan spiritual, menjaga keseimbangan dengan sesama dan alam, serta mengamalkan nilai-nilai adat. Sementara itu, dunia bawah menjadi simbol ketidakseimbangan, konsekuensi dari tindakan yang menyimpang dari nilai kemanusiaan dan keharmonisan. Melalui tiga dimensi tersebut, karya ini menghadirkan refleksi tentang hubungan yang utuh antara manusia, leluhur, alam, dan Sang Pencipta. Dayak's Trilogi menjadi pengingat bahwa kehidupan adalah perjalanan menuju harmoni, di mana setiap pilihan dan tindakan menentukan keseimbangan antara dunia spiritual, sosial, dan ekologis.

Konsep Penciptaan

Lukisan Dayak's Trilogy menghadirkan tafsir visual kontemporer mengenai kosmologi masyarakat Dayak yang berpusat pada konsep tiga dunia: dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Ketiga lingkaran besar yang mendominasi bidang kanvas bukan sekadar bentuk geometris, melainkan simbol siklus kehidupan yang saling terhubung. Masing-masing lingkaran merepresentasikan ruang eksistensial yang membentuk cara pandang masyarakat Dayak terhadap asal-usul kehidupan, perjalanan manusia, dan tujuan akhir dari keberadaannya.

Lukisan Dayak Trilogi karya Puji Rahayu Pontianak
Lingkaran pertama merepresentasikan dunia atas, alam yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya Jubata (Tuhan) dan para leluhur yang telah mencapai kesempurnaan hidup. Dominasi bias cahaya dengan warna merah dan hitam yang memancar dari pusat lingkaran menjadi metafora kesucian, kebijaksanaan, dan penerangan ilahi yang menjadi sumber kehidupan. Sementara kulit Kayu Kapuak dengan warna kuning adalah lambang keagungan adat yang harus terus dijaga dan dijalankan dalam kehidupan. Dunia atas bukan hanya tujuan akhir, tetapi juga sumber nilai moral yang membimbing kehidupan manusia di dunia.

Lingkaran kedua melambangkan dunia tengah, ruang tempat manusia menjalani kehidupan, bekerja, berelasi, dan membangun peradaban. Posisinya yang berada di pusat komposisi menegaskan bahwa kehidupan manusia merupakan titik keseimbangan antara dimensi spiritual dan dunia material. Di dunia inilah manusia diuji untuk menjalankan nilai-nilai adat, menjaga keharmonisan dengan sesama, serta merawat alam sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. Dunia tengah dipahami sebagai ruang transformasi, tempat manusia menentukan arah perjalanan rohaninya melalui setiap pilihan dan tindakan.

Sementara itu, lingkaran ketiga menggambarkan dunia bawah, yang dalam kosmologi Dayak dimaknai sebagai representasi ketidakseimbangan, kekacauan, dan konsekuensi dari tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan. Kehadirannya bukan dimaksudkan untuk menghadirkan rasa takut, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap tindakan manusia memiliki akibat terhadap keseimbangan alam semesta. Dalam pemikiran Dayak, dunia bawah menjadi bagian dari struktur kosmos yang menjaga harmoni melalui hukum sebab-akibat dan keseimbangan moral.

Lukisan Dayak Trilogi karya Puji Rahayu Pontianak
Komposisi tiga lingkaran yang saling bertumpuk menunjukkan bahwa ketiga dunia tersebut bukanlah ruang yang terpisah secara mutlak, melainkan saling memengaruhi dalam satu kesatuan kosmis. Tidak ada batas yang benar-benar kaku di antara ketiganya. Kehidupan manusia senantiasa bergerak di antara dimensi-dimensi tersebut melalui tindakan, nilai, dan spiritualitas yang dijalani sepanjang hidup.

Secara visual, penggunaan Kulit Kayu Kapuak dan warna kuning menghadirkan simbol cahaya kehidupan, kemuliaan, dan kehadiran ilahi; merah merepresentasikan energi, keberanian, serta dinamika kehidupan; sedangkan hitam menjadi simbol misteri, kekuatan, sekaligus ruang bawah yang gelap. Sapuan garis-garis radial yang memancar dari setiap lingkaran menciptakan kesan gerak yang dinamis, seolah energi kehidupan terus mengalir dari pusat menuju seluruh penjuru semesta. Garis-garis tersebut dapat dimaknai sebagai hubungan yang tidak pernah terputus antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan.

Lebih jauh, Dayak's Trilogy merupakan representasi visual dari falsafah hidup masyarakat Dayak yang dirumuskan dalam semboyan Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata. Ketiga prinsip tersebut menemukan bentuk simboliknya dalam tiga lingkaran yang menyatu. Adil Ka' Talino merefleksikan kehidupan manusia di dunia tengah yang harus dijalani dengan keadilan dan penghormatan terhadap sesama. Bacuramin Ka' Saruga mengarahkan pandangan manusia kepada dunia atas sebagai cerminan kehidupan yang luhur dan harmonis. Sementara Basengat Ka' Jubata menjadi inti spiritual yang menghidupkan keseluruhan komposisi, menegaskan bahwa seluruh kehidupan bersumber dari Tuhan dan harus dijalani dalam kesadaran akan kehadiran-Nya.

Melalui pendekatan abstraksi simbolik, seniman tidak berusaha menggambarkan kosmologi Dayak secara literal, melainkan menerjemahkan esensi filosofisnya ke dalam bahasa rupa kontemporer. Bentuk-bentuk geometris, permainan cahaya, dan ledakan warna membangun pengalaman visual yang mengajak penikmat karya untuk merefleksikan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Penguasa Tunggal. Dayak's Trilogy tidak hanya menjadi karya estetis, tetapi juga menjadi medium kontemplasi mengenai identitas budaya Dayak yang memandang kehidupan sebagai kesatuan yang utuh dan seimbang.

Dalam konteks seni rupa kontemporer Indonesia, karya ini menunjukkan bahwa warisan kosmologi Dayak bukan sekadar peninggalan tradisi, melainkan sumber inspirasi yang tetap relevan untuk dibaca ulang melalui bahasa visual masa kini. Dayak's Trilogy menghubungkan nilai-nilai lokal dengan persoalan universal tentang kehidupan, spiritualitas, dan keseimbangan, sehingga menjadikan kosmologi Dayak hadir sebagai narasi yang hidup dan terus berdialog dengan masyarakat modern.


Referensi dari Mbah Dinan
Alam pemikiran masyarakat Dayak Kanayatn mempunyai konsep kosmologi tiga alam (talu binua), yaitu alam Tengah yang kita tempati sekarang, alam atas yang kita tempati nanti jika kita mati sebagai orang baik, dan alam bawah yang akan ditempati manusia jika mati sebagai orang yang banyak membawa keburukan dari hidup yang dijalani. TIga alam disimbolkan dalam bentuk gong yang dilukis dengan gaya dekoratif untuk menggambarkan tiga alam tersebut.

Tiga Gong sebagai penggambaran tiga suara, gong tengah (Gong Kanayatn) sebagai penggambaran suara alam tengah, Gong Besar (agukng) dengan bunyi rendah dan berwibawa serta tenang sebagai gambaran alam atas (bersifat agung), dan gong kecil sebagai gambaran alam bawah dengan bunyi yang bersifat melengking (jeritan). Dari konsep kosmologi alam masyarakat Dayak Kanayatn inilah kita bisa belajar untuk menjalani hidup sesuai semboyan Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata. Artinya hidup dalam tiga perbuatan, adil kepada seluruh manusia, bertingkah laku baik sesuai perlakuan surgawi, dan bernafas dengan kehendak Tuhan, menjalani ketiadaan untuk mengembalikan segala kekuatan dan daya upaya kepada Tuhan. Adil akan membuat hidup bijak, berlaku baik akan membuat hidup bahagia, bernafas dengan semangat Tuhan akan membuat tenang dalam kehidupan.

Foto Pendukung Karya



20 seniman asal Kalimantan Barat memamerkan 52 lukisan yang mengekspresikan budaya lewat goresan kuas di kanvas pada Borneo Metamorfosa #3 yang digelar dari 10 sampai 18 Agustus 2024 di Aula Pusat Kegiatan Mahasiswa Untan, Jalan Daya Nasional, Pontianak.

"Borneo Metamorfosa #3 ini sebenarnya mengangkat tentang budaya, di mana masing-masing seniman itu bebas untuk mengambil ide dan visual makanya metamorfosis di situ. Tidak dijabarkan secara real apa adanya, tetapi seniman memilik ide yang dikupas di balik karyanya itu, ada apa," ungkap seniman Kalbar sekaligus kurator Borneo Metamorfosa #3, Puji Rahayu.

sumber: Hi Pontianak

Simulasi Display Karya

Lukisan Dayak Trilogi karya Puji Rahayu, S.Sn., Pontianak 2024
Display lukisan di ruang kerja


Lukisan Dayak Trilogi karya Puji Rahayu, S.Sn., Pontianak 2024
Display lukisan di ruang tamu

Tertarik dengan karya Dayak Trilogi ini?
Klik tombol di bawah agar terhubung ke whatsapp Admin.


Hubungi Admin
Posting Komentar